Home » » Sistem Religi Masyarakat Melayu Kepulauan

Sistem Religi Masyarakat Melayu Kepulauan


            Religi adalah kepercayaan terhadap adanya kekuatan yang berada diluar kekuasaan manusia (kekuatan supranatural). Manusia meyakini keberadaan kekuatan tersebut bahkan kekuatan tersebut ikut menentukan jalan hidup manusia. Kekuatan supranatural tersebut terwujud pada kepercayaan adanya dewa, makhluk halus, kekuatan sakti, Tuhan, dan ilmu gaib.
         Tindakan dan prilaku religius pada manusia akan muncul akibat keterbatasan akal pikiran manusia dalam menghadapi hal-hal diluar batas kemampuannya. Hal tersebut diimplementasikan dalam kegiatan berupa upacara.
       Pada masyarakat adat orang laut, selain percaya kepada Tuhan (agama) mereka masih mempercayai adanya makhluk halus, tempat-tempat sakti dan ilmu gaib. Tempat-tempat yang diyakini sebagai tempat yang sakti, dan didiami oleh makhluk halus adalah pohon besar, teluk, sumur, pulau, laut, dan lainnya.
            Agama dan kepercayaan merupakan suatu kekuatan yang sangat berperan dalam membentuk masyarakat dan kebudayaan. Agama ditujukan pada pengabdian serta kepatuhanterhadap Tuhan Yang Maha Kuasa, sedangkan kepercayaan dihubungkan dengan kekuatan-kekuatan yang diharapkan bantuannya untuk menolong atau melindungi diri sesorang atau masyarakat.

PERCAYA TERHADAP TUHAN (ADANYA AGAMA)
           Kebanyakan Masyarakat Adat Orang Laut yang bermukim di Pulau Lipan mayoritas beragama Islam, sedangkan yang lainnya beragama Kristen. Tetapi pada kenyataannya kebanyakn dari mereka belum melaksanakan ajaran agama sebagaimana mestinya.
          Bagi masyarakat yang beragama Islam, pembinaan ataupun ceramah-ceramah agama diberikan oleh para mubaligh yang datang dari luar Pulau Lipan dan dari pejabat Departemen Agama, Kantor Urusan Agama (KUA) setempat. Ceramah agama ini dilaksanakan 1x seminggu di Mushalla Nurul Islam yang terletak di pemukiman masyarakat Pulau Lipan pada malam hari. 
         Dari penuturan kepala RT setempat, kebanyakan warga belum memahami melaksanakan ajaran agama dan bahkan ada yang tidak mau tahu tetang agama. Apabila diadakan ceramah-ceramat agama di Mushalla hanya sebagian kecil saja dari masyarakat terebut yang hadir. Hal ini mungkin bisa dimaklumi karena disamping belum ada kesadaran tentang agama, mereka selalu disibukkan dengan kegiatan mereka sehari-hari.
      Mencermati aktivitas mereka sehari-hari, mereka turun kelaut pagi hari jam 8.00 dan jam 20.00/21.00 malam hari baru kembali. Dan sebaliknya jika turun kelaut malam hari jam 19.00/20.00 malam, maka mereka baru kembali pada pagi hari. Barangkali kondisi yang seperti inilah yang menyebabkan Masyarakat Adat Orang Laut kurang memperhatikan masalah agama. Hal ini seharusnya juga menjadi pemikiran atau pertimbangan bagi para mubaligh dalam menetapkan waktu pembinaan masalah keagamaan masyarakat.
    Bagi masyarakat yang telah menyadari adanya kewajiban-kewajiban agama yang harus dilaksanakan, mereka telah melaksanakan nya sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Mereka sangat mengharapkan kedatangan mubaligh ataupun orang-orang yang memberi penjelasan tentang pelaksanaan ajaran agama. 
          Dalam pelaksanaan peringatan hari-hari besar Islam, kegiatan yang dilaksanakan hanya sebatas mendatangkan penceramah untuk memberikan pengajian yang berhubungan dengan hari besar yang diperingati. Seperti peringatan Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi Muhammad s.a.w dan lain-lain. Sedangkan kegiatan lain seperti lomba azan, membaca surah-surah pendek (Juz Amma) yang diikuti oleh anak-anak belum ada. Untuk melaksanakan sholat Jumat dan sholat dua hari raya, masyarakat (Pulau Lipan) harus pergi ke Desa Penuba, karena di Desa Penuba terdapat masjid dan lapangan untuk pelaksanaan sholat tersebut. Bagi masyarakat yang telah meyadari adana kewajiban-kewajiban tertentu (eperti sholat Jumat harus silaksanakan secara berjama’ah di masjid) maka mereka tidak akan turun kelaut pada hari Jumat karea mereka kana melaksanakan sholat Jumat pada 12.00/13.00 siang. Dan, kalau memungkinkan atau sangat diperlukan maka mereka akan kelaut pada malam harinya.
      Begitu juga pelaksanaan sholat lima waktu setiap harinya bagi masyarakat yang sedang bekerja dilaut, mereka bisa melaksanaakan di tempat-tempat yang memungkinkan sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan bagi yang belum menyadari kewajiban-kewajiban agama yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim/muslimah, maka mereka akan sulit melaksanakannya. Dan semuanya itu tentunya tidak terlepas dari  pengetahuan dan cara mereka berpikir.
     Di Mushalla Nurul Islam, selain dipergunakan untuk sholat berjama’ah dan ceramah-ceramah agama, juga dijadikan tempat belajar mengaji Al-Qur’an dan pelajaran keagamaan yang dilaksanakan setiap sore dari jam 15.00 s/d 17.00 sore.
      Anak-anak yang mengikuti pendidikan agama ini tidaklah banyak. Anak-anak belum menyadari pentingnya pendidikan agama bagi mereka sedangkan motivasi dari orang tua sangat kurang. Bahkan diantara anak-anak tersebut ada yang berkeinginan untuk belajar agama, tepapi orang tua menginginkan anak-anaknya utuk ikut bersama mereka pergi kelaut membantu mereka menangkap ikan.
    Bagi masyarakat yang telah menyadari pentingnya pendidikan agama bagi anak-anak, maka mereka selain menyuruh anaknya mengikuti pendidikan agama di Mushalla, juga ditambah dengan pelajaran tambahan pada guru (orang yang mengetahui tentang agama Islam) pada waktu yang lain. Orang tua yang seperti ini menginginkan anak-anaknya nanti lebih pintar dari mereka dan punya pengetahuan agar mereka hidup lebih baik dari orang tua mereka.

KEPERCAYAAN PADA MAKHLUK HALUS
     Sebelum memeluk agama, religi yang mengatur prilaku Masyarakat Adat Orang Laut mengandung konsep animisme. Animisme adalah suatu sistem kepercayaan kepada jiwa dan makhluk halus yang berada dialam sekeliling tempat tinggal manusia (Ariyono Suyono: 1985). Disamping itu juga kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan gaib yang terdapat pada seseorang, hewan, pohon besar, dan sebagainya (dinamisme).
         Dengan demikian didunia ini selain didiami oleh makhluk hidup, juga didiami oleh roh-roh orang yang sudah meninggal dunia dan makhluk halus. Roh atau arwah nenek moyang yang sudah meninggal dunia diyakini masih tetap berada di tengah-tengah pergaulan masyarakat. Arwah nenek moyang akan murka kepada anak cucu/masyarakat aapabila mereka tidak memelihara adat istiadata atau kebiasaan-kebiasaan yang telah mereka wariskan. Kemarahan tersebut bisa berwujud bencana alam, kesusahan hidup, timbulnya berbagai macam penyakit dan sebagainya.
           Hal-hal yang telah disebutkan diatas pada akhirnya mendorong masyarakat untuk mengadakan pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang ataupun kekuatan-kekuatan gaib yang terdapat pada tempat-tempat tertentu. Pemujaan ini diwujudkan dalam bentuk upacara ataupun pemberian sesajen yang diiringi dengan pembacaan mantra atau jampi-jampi.
        Mantra atau jampi adalah sarana komunikasi yang dapat menghubungkan antara manusia dengan roh nenek moyang ataupun kekuatan gaib yang dilakukan dengan perantaraan dukun/bomo. Dukun atau bomo sangat berperan dalam menentukan sebuah upacara.
        Masyarakat Adat Orang Laut yang bermukim di Pulau Lipan, sebagaimana telah dikemukaan diatas telah memeluk agama. Namun demikian mereka belum melaksanakan sebagiamana mestinya. Dan, dalam kehidupan mereka sehari-hari pengaruh kepercayaan animisme dan dinamisme masih tampak.
          Hal ini dapat diketahui dari penuturan beberapa informan yang antara lain mengatakan, apabila mereka melalui tempat-tempat yang diyakini ada kekuatan gaib mereka akan minta izin menumpang lewat atau meminta izin menangkap ikan ditempat tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Begitu juga kalau mereka mendapat kesulitan seperti gelombang besar, hujan lebat, angin badai ataupun malapetaka lainnya, mereka disamping memohon bantuan kepada Tuhan juga memohon kepada roh nenek  moyang agar mereka terlepas dari marabahaya atau kesulitan yang menimpa.
          Menurut Sudarman Sembiring, dunia roh tempat tinggal para hantu, mambang dan peri, identik dengan tempat-tempat tertentu. Hampir semua orang laut yakin bahwa roh Datuk Kemuning dan istrinya yaitu saka (leluhur) datuk moyang orang laut, bersemayam di Gunung Daik (Lingga). Roh-roh para anggota keluarga berada ditanjung, dipantai, kuala, suak, atau bukit-bukit berbatu. Agar mereka aman melewati tempat-tempat tersebut, orang laut sellau memberi pemakan (sesaji), atau mereka minum air laut sedikit ditempat tersebut untuk  menandakan bahwa mereka adalah “orang sendiri” dan karena itu mereka berharap agar tidak diganggu. (Sembiring, 1993: 335).
         Kenyataan seperti terungkap diatas, menggambarkan bhwa adanya dualisme dalam kepercayaan mereka. Disatu sisi mereka meyakini adanya Tuhan Yang Maha Kuasa tempat mereka memohon pertolongan dan perlindungan. Sementara disisi lain mereka juga meyakini roh nenek moyang yang akan membantu mereka apabila mereka ditimpa kesulitan.
            Masyarakat Adat Orang Laut pada saat ini, memang tidak lagi mengadakan upacara pemujaan terhadap roh nenek moyang atau mengatar sesaji ketempat-tempat yang diyakini memiliki kekuatan gaib atau sakti. Tetapi mereka meyakini roh nenek moyang masih memperhatikan mereka, dan begitu juga kekuatan-kekuatan sakti ditempat-tempat tertentu masih ada. Menurut keyakinan mereka apabila mereka tidak mengganggu tempat-tempat tersebut, maka makhluk halus dan kekuatan sakti yang ada di tempat tersebut tidak akan mengganggu mereka.
           Lebih lanjut,mereka juga meyakini apabila seseorang berniat jahat atau merusak tempat-temapt tersebut maka makhluk halus tersebut mengingatkan mereka dengan cara memperlihatkan suatu sosok yang menakutkan, mempermainkan sampan mereka dan adakalanya akan mendatangkan penyakit pada orang tersebut.
            Agar terhindar dari gangguan atau kemarahan makhluk halus yang menempati tempat-tempat yang telah disebutkan diatas, seseorang hendaklah berprilaku sopan, tidak sombong, tidak berkata takabur. Jangan sekali-kali mengusik tempat tersebut dan berkata mengaku pandai dan mengetahui segala-galanya.

ILMU GAIB
         Masyarakat Adat Orang Laut Pulau Lipan masih mengenal adanya ilmu gaib yang berhubungan dengan keselamatan diri dan meramal. Ilmu gaib ini hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja seperti dukun atau bomo. Untuk menjaga keselamata diri seseorang agar tidak diganggu kekuatan-kekuatan jahat atau roh-roh jahat, dukun/bomo akan memberikan penangkal kepada seseorang berupa benda-benda tertentu yang sudah dimantrainya. Terutama pada bayi dan anak-anak, agar mereka tidak diganggu makhluk halus dan kekuatan-kekuatan jahat makan dukun/bomo akan membuat azimat (penangkal) yang telah di mantrai atau diberi jampi-jampi lalu dikalungkan dileher atau diikatkan dipinggang sibayi/anak tersebut. Penangkal/azimat yang telah di mantrai tersebut akan memiliki kekuatan sakti yang bisa melindungi orang yang memakainya.Adapun ilmu gaib meramal dipergunakan untuk menentukan hari yang baik memulai suatu pekerjaan, meramal kepribadian seseorang dan mengetahui maksud dan tujuan para pendatang (maksud baik/jahat).



Thanks for reading Sistem Religi Masyarakat Melayu Kepulauan

Newest
Next »
Next Post »

0 comments:

Post a Comment